Jumat, 15 Mei 2009

kecerdasan intrapersonal

KECERDASAN INTRAPERSONAL

Pada hari ahad tidak terasa hampir 1 jam ummi ummu Aiman (bukan nama sebenarnya) memperhatikan gadis kecilnya berada didalam kamarnya. Hening, tidak ada suara celoteh riang seperti biasanya.

Apa yang sedang dilakukan Rabi’ah di dalam kamar. Apakah ia tertidur ?” ummi ummu Aiman membatin dalam hati, sambil perlahan-lahan membuka pintu kamar Rabi’ah.

Dugaan ummi ummu Aiman salah ! Rabi’ah sedang asyik menggambar di atas meja belajarnya. Ia terlihat begitu serius mengerjakan pekerjaannya sehingga tidak menyadari kehadiran ummi tercinta disampingnya.

“Rabi’ah sayang sedang menggambar apa? Kok asyik sekali, sampai-sampai dari tadi ummi tidak dengar suara Rabi’ah sama sekali ?” tanya ummi Ummu Aiman lembut, memecah keheningan di kamar rabi’ah.

“ ssst…….., ummi jangan ribut, Rabi’ah sedang berfikir!” jawab Rabi’ah pendek.

“Memikirkan apa? Rabi’ah menggambar apa ? cerita dong sama ummi,” Ummi ummu Aiman berusaha melirik karena ingin tahu apa yang sedang terjadi pada gadis kecilnya.

“Rabi’ah sedang berpikir. Setiap hari ummi dan abuya pergi kerja. Rabi’ah lihat setelah pulang kantor Abuya dan ummi pasti capai. Padahal Rabi’ah ingin sekali bermain sama ummi dan Abuya. Coba Ummi, ini Rabi’ah menggambar abuya, ummi dan Rabi’ah, sedang asyik berenang di kolam renang rumah kita. Ini Rabi’ah juga menggambar bola, nah ummi sedang melempar bola pada Rabi’ah, lalu …hap …Rabi’ah tangkap deh !” Celoteh Rabi’ah menceritakan gambar yang dibuatnya.

“Rabi’ah ingin sekali Abuya dan ummi bisa menemani Rabi’ah, tapi kasihan Abuya dan Ummi ya, sudah capai bekerja masih harus menemani Rabi’ah,” lanjut Rabi’ah dengan suara lirih, sambil tangannya terus mewarnai gambar yang sudah dibuatnya.

Ummi ummu Aiman tersentak mendengar curahan hati gadis kecilnya. Baru kini ia sadari bahwa ia dan suaminya sering tak sempat meluangkan waktu untuk buah hati mereka. Bahkan, tidak jarang pula, akhir pekan mereka isi dengan kegiatan masing-masing, bukan kegiatan bersama keluarga.

“ SubhanAlloh, tidak kusangka Rabi’ah menyadari hal ini. Di usianya yang 7 tahun ini, Rabi’ah mempunyai kepekaan terhadap perasaan diri dan situasi yang sedang berlangsung,” batin Ummi ummu Aiman dalam hati. Sambil mengusap lembut rambut halus Rabi’ah, ummu Aiman berkata perlahan, “Maafkan Ummi dan Abuya ya sayang ……”

*********

SubhanAlloh melihat kasus diatas, dapat kita lihat bahwa ;

Ada kalanya individu sebagai sosok makhluk sosial mempunyai keinginan untuk memahami apa yang tengah terjadi pada dirinya, apa yang sedang ia rasakan saat itu, atau juga memahami apa yang dapat ataupun yang ingin ia kerjakan pada suatu saat.

Sebetulnya ini adalah hal yang lumrah dialami oleh setiap individu karena didalam dunia batin seseorang terdapat sebuah inti dari perasaan tersebut, yang berisikan kekuatan untuk memahami diri sendiri dengan orang lain, dan membayangkan, merencanakan, dan memecahkan beberapa persoalan.

Dampak dari kegiatan dalam diri ini akan menghasilkan motivasi, empati, etika dan sikap altruisme, mementingkan orang lain, pada diri individu yang bersangkutan. Tanpa sumber-sumber batin ini akan sulit bagi seorang individu untuk membangkitkan kehidupan yang produktif dan bahagia.

Ketika seorang individu lahir ke dunia, kepandaian intrapersonal sudah berkembang dari sebuah kombinasi antara keturunan, lingkungan dan pengalaman.

Bayi yang diasuh oleh ibunya atau pengasuhnya akan membentuk suatu keamanan emosional, dan dampak pengasuhan ini terus berlanjut hingga membentuk identitas diri. seorang individu yang mengalami proses tumbuh kembang. Tidak Cuma itu, hal ini pun akan mempengaruhi perkembangan lain, misalnya hubungan sosial dari individu tersebut.

Berkembangnya kemampuan kecerdasan intrapersonal seseorang ini melibatkan pemikiran dan perasaannya. Semakin baik seseorang membawa kecerdasan ini pada kesadarannya, semakin baik juga ia dapat menghubungkan dunia batinnya ke pengalaman dunia luar.

Dalam menjalani kehidupan di lingkungan sosialnya, seringkali seorang individu dituntut mampu memahami dirinya sendiri ataupun mengetahui apa yang dilakukan diri sendiri. Untuk mampu melakukan hal tersebut memang tak terlepas dari adanya kecerdasan intrapersonal dalam diri seseorang. Kecerdasan intrapersonal/ cerdas diri merupakan kemampuan seseorang untuk memahami diri sendiri, mengetahui siapa dirinya, apa yang dapat ia lakukan, apa yang ingin ia lakukan, bagaimana reaksi diri terhadap situasi, dan memahami situasi seperti apa yang sebaiknya ia hindari dan mengarahkan dan mengintrospeksi diri.

Biasanya, orang-orang dengan kecerdasan intrapersonal yang baik memiliki pemahaman yang baik juga terhadap dirinya sendiri, dan tidak menjadi sosok pengacau saat berkumpul dengan kelompok sosialnya. Selain itu, orang-orang dengan kecerdasan intrapersonal yang menonjol juga dapat mengetahui apa saja yang dapat mereka lakukan dan apa saja yang tidak dapat mereka lakukan. Mereka pun dapat mengetahui individu yang tepat saat mereka memerlukan bantuan.

Kecerdasan intrapersonal ini memang tidak berkembang hanya pada individu dewasa. Si kecil pun saat ini memiliki kecerdasan ini. Bila anak-anak mendapatkan perangsangan dan pengasahan yang tepat pada aspek kecerdasan ini, maka ia pun akan tumbuh menjadi anak yang mempunyai etika yang baik., dan dapat melakukan aktifitasnya dengan kreatif dan produktif. Selain itu anak pun mempunyai sikap untuk mampu mengakui kesalahannya dan bersikap jujur.

Tetap kita perlu memahami karena anak-anak dengan kecerdasan intrapersonal di atas rata-rata ini, terkadang bersikap pemalu atau pun pendiam kala berada di lingkungan sosialnya.

Ada beberapa tips kegiatan-kegiatan untuk mengasah kecerdasan intrapersonal, yaitu :

- Mengenal berbagai perasaan dan emosi yang bisa terjadi dalam diri anak

- Melatih anak mampu mengajukan pertanyaan

- Mencoba membuat puisi atau lagu

- Menulis sebuah surat pada kawan

- Berimajinasi menjadi tokoh yang dikagumi di lingkungan sosialnya

Sebagaimana kita ketahui bahwa anak adalah amanah dari Allah SWT

“ ….Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan ) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada – Nyalah aku kembali.”

(Hud : 88)

Wa Allah A’lam



(Psychology of Child and multiple Intelligence )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar